Senin, 09 Mei 2011

Tempat nongkrong seru di Kota Yogyakarta

JALAN MALIOBORO


Sepertinya Malioboro sudah sangat identik dengan kota Yogyakarta. Bisa dibilang, tidak afdol rasanya kalau mengunjungi kota Yogyakarta tanpa menikmati serunya jalan-jalan dan nongkrong di Jalan Malioboro.
Jalan Malioboro membentang dari stasiun tugu, hingga kantor pos Yogyakarta. Terletak sekitar 800 meter dari Kraton Yogyakarta, tempat ini dulunya dipenuhi dengan karangan bunga setiap kali Kraton melaksanakan perayaan. Malioboro yang dalam bahasa sansekerta berarti "karangan bunga" menjadi dasar penamaan jalan tersebut.
Diapit pertokoan, perkantoran, rumah makan, hotel berbintang dan bangunan bersejarah, jalan yang dulunya sempat menjadi basis perjuangan saat agresi militer Belanda ke-2 pada tahun 1948 juga pernah menjadi lahan pengembaraan para seniman yang tergabung dalam komunitas Persada Studi Klub (PSK) pimpinan seniman Umbul Landu Paranggi semenjak tahun 1970-an hingga sekitar tahun 1990.
Jika kamu termasuk orang yang doyan dengan seni, maka jalan Malioboro pasti akan memanjakanmu. Di kiri kanan sepanjang jalan ini, banyak dijajakan souvenir-souvenir berseni tinggi hasil kreasi seniman local. Selain itu, banyak juga seniman-seniman yang kadang terlihat sedang mengekpresikan kemampuan mereka seperti bermain musik, melukis, hapening art, pantomim dan lain-lain.
Menikmati pengalaman berbelanja, berburu cinderamata khas Jogja, kamu bisa berjalan kaki sepanjang bahu jalan yang berkoridor (arcade). Di sini akan ditemui banyak pedagang kaki lima yang menggelar dagangannya. Mulai dari produk kerajinan lokal seperti batik, hiasan rotan, wayang kulit, kerajinan bambu (gantungan kunci, lampu hias dan lain sebagainya) juga blangkon (topi khas Jawa/Jogja) serta barang-barang perak, hingga pedagang yang menjual pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain. Sepanjang arcade, selain bisa berbelanja dengan tenang dalam kondisi cerah maupun hujan, juga bisa menikmati pengalaman belanja yang menyenangkan saat menawar harga. Jika beruntung, bisa berkurang sepertiga atau bahkan separohnya.
Jangan lupa untuk menyisakan sedikit tenaga. Masih ada pasar tradisional yang harus dikunjungi. Di tempat yang dikenal dengan Pasar Beringharjo, selain kamu bisa menjumpai barang-barang sejenis yang dijual di sepanjang arcade, pasar ini menyediakan beraneka produk tradisional yang lebih lengkap. Selain produk lokal Jogja, juga tersedia produk daerah tetangga seperti batik Pekalongan atau batik Solo. Mencari batik tulis atau batik print, atau sekedar mencari tirai penghias jendela dengan motif unik serta sprei indah bermotif batik. Tempat ini akan memuaskan hasrat berbelanja barang-barang unik dengan harga yang lebih murah.
Berbelanja di kawasan Malioboro serta Beringharjo, pastikan tidak tertipu dengan harga yang ditawarkan. Biasanya para penjual menaikkan harga dari biasanya bagi para wisatawan.
Saat matahari mulai terbenam, ketika lampu-lampu jalan dan pertokoan mulai dinyalakan yang menambah indahnya suasana Malioboro, satu persatu lapak lesehan mulai digelar. Makanan khas Jogja seperti gudeg atau pecel lele bisa dinikmati disini selain masakan oriental ataupun sea food serta masakan Padang. Serta hiburan lagu-lagu hits atau tembang kenangan oleh para pengamen jalanan ketika bersantap.
Bagi kamu yang ingin mencicipi masakan di sepanjang jalan Malioboro, mintalah daftar harga dan pastikan pada penjual, untuk menghindari naiknya harga secara tidak wajar.
Mengunjungi Yogyakarta yang dikenal dengan "Museum Hidup Kebudayaan Jawa", terasa kurang lengkap tanpa mampir ke jalan yang telah banyak menyimpan berbagai cerita sejarah perjuangan Bangsa Indonesia serta dipenuhi dengan beraneka cinderamata. Surga bagi penikmat sejarah dan pemburu cinderamata.

ALUN-ALUN KIDUL


Kamu yang pernah tinggal di Yogyakarta, tentu takkan bisa melupakan nuansa akrab di Alun-alun Kidul. Di tengah malam bersama teman kuliah, kamu mungkin pernah duduk di tikar yang tersedia di warung sekitar sambil berbincang tentang tugas kuliah hingga adik kelas pujaan. Bisa jadi pula kamu sering menikmati kehangatan minuman sambil bercengkrama dengan tetangga sekampung atau rekan sekerja semasa di Yogyakarta.
Bagi yang belum pernah ke Yogyakarta, tulisan ini akan

Selasa, 05 April 2011

Resensi buku "The True History Of Majapahit (1)"

Judul buku      : The True History Of Majapahit (1)
Pengarang       : Gamal Kamandoko
Tebal Buku      : 434 halaman
Penerbit           : Diva Press

The True History Of Majapahit (1)
Antara Cinta, Keberanian, dan Pengkhianatan
Oleh : Ahmad Alwajih*
Mempelajari sejarah itu tidak membosankan dan membuat jenuh. Malah bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan untuk mengisi waktu senggang di sela-sela kesibukan beraktifitas. Inilah rupanya yang hendak disuguhkan oleh Gamal Kamandoko melalui novel ini. Tak cukup menampilkan sejarah, novel ini juga dibaluri romansa eksotik ala kerajaan Jawa pada masa silam, sekaligus menampilkan semangat keberanian dan kepahlawanan, serta nuansa kelicikan dan pengkhianatan para manusia bermuka dua .   
The True History Of Majapahit (1) adalah sepenggal kisah perjuangan Sanggrama Wijaya dalam membidani lahirnya kerajaan Majapahit. Tentunya perjuangan Sanggrama Wijaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dengan dibantu oleh dua belas orang pengikut setianya berikut dukungan adipati Madura, Arya Wiraraja, bermacam-macam cara dan strategi harus ia tempuh hingga terpaksa untuk sementara waktu mengucapkan selamat tinggal pada kesenangan-kesenangan yang selayaknya dinikmati seorang pangeran muda.
Akar berdirinya kerajaan Majapahit sendiri bermula dari drama penaklukan kerajaan Kadiri terhadap Singasari. Disebutkan bahwa keruntuhan Singasari disebabkan oleh pengkhianatan Jayakatwang terhadap raja Singasari, Sri Kertanegara. Setelah Sri Kertanegara wafat di tangan Jayakatwang, maka resmilah Jayakatwang bergelar Prabu dan memusatkan kekuasaannya di Kadiri.
Sebenarnya Sri Kertanegara takkan semudah itu digulingkan Jayakatwang andaikata pasukan utama Singasari tidak berangkat ke Swarnabhumi untuk menyerbu kerajaan Darmasraya. Inilah rupanya sebentuk peluang menggembirakan bagi Jayakatwang sehingga ia berani menggempur Singasari yang sedang lemah kekuatannya. Singasari yang tak menyangka penyerbuan itu terpaksa mempertahankan diri dengan prajurit-prajurit seadanya. Termasuk di antara prajurit yang mempertahankan Singasari adalah Sanggrama Wijaya selaku menantu Sri Kertanegara. Karena kekuatan yang tidak berimbang, maka kemenangan ada di pihak Jayakatwang. Sampai-sampai Sanggrama Wijaya terpaksa lari menyelamatkan diri guna menyusun kekuatan baru, sementara salah seorang istrinya, Dyah Gayatri tertawan oleh pasukan Jayakatwang.
Dalam pelariannya, Sanggrama Wijaya merasa tindakan licik Prabu Jayakatwang itu harus diakhiri. Nusantara harus kembali ke pangkuan putra-putra Singasari dengan cara apapun. Melawan itu pasti. Namun tidak dalam bentuk benturan fisik secara langsung sebab tak mungkin melawan Kadiri dengan tenaga dua belas orang saja. Ia harus memikirkan taktik dan strategi yang lebih ampuh untuk menggulingkan kekuasaan Jayakatwang sekaligus merebut kembali kekasih hatinya. Berhasilkah upaya Sanggrama Wijaya itu ? Mampukah ia mengembalikan kehormatan Singasari yang telah runtuh? Temukan kelanjutan kisahnya pada novel ini.
Membaca halaman demi halaman, kita serasa menaiki mesin waktu. Alam pikiran kita seolah-olah tersedot ke masa silam dan menyaksikan sendiri tiap konflik yang dialami oleh Sanggrama Wijaya dan segenap pengikutnya. Berbeda dari buku-buku sejarah lainnya, sisi menarik dari novel ini terletak unsur kemanusiaan tiap tokoh yang teramat kental. Ada rasa cemas, bingung, takut, sedih, dan sebagainya ketika sang tokoh dihadapkan pada situasi sulit. Sebaliknya, rasa senang, haru, berani, dan semangat kepahlawanan pun muncul saat sang tokoh berupaya menumpas musuh-musuhnya.  
Tak ketinggalan pula cerita cinta turut mewarnai novel ini meskipun tidak terlalu ditonjolkan. Namun tetap disampaikan dengan sudut pandang berbeda. ‘Bahasa-bahasa’ cinta Sanggrama Wijaya terhadap istrinya yang ditawan Jayakatwang, misalnya, kaya akan nuansa kearifan lokal dan tidak terkesan cengeng. Rasa cemburu dan sakit hati bukannya melemahkan kobaran perjuangannya, justru itu merupakan cambuk yang melecut untuk berjuang tak kenal lelah demi kembalinya sang pujaan hati.  
Jika dilirik dari cara penyampaian penulis, plot cerita tampak mengalir lepas tetapi jelas sehingga pembaca tidak menemukan kesulitan untuk menyimaknya secara runtut. Di samping tidak bermewah-mewah dalam pemilihan kata-kata dan penggunaan bahasa, keterangan-keterangan singkat berupa catatan-catatan sejarah yang disertakan cukup membantu pemahaman pembaca terhadap sebuah peristiwa-peristiwa penting.
Satu hal yang perlu diperhatikan adalah betapa langkanya sastra ber-genre khas Indonesia. Terlebih lagi penulis yang mengangkat tema sejarah lokal. Di tengah-tengah belantara sastra bergaya pop atau ke-‘barat-baratan’, kehadiran novel ini bisa menjadi oase bagi penggemar sastra. Harapan kita, tentunya semoga makin banyak lagi sastrawan-sastrawan Indonesia yang menawarkan hidangan bacaan segar ala Nusantara bagi para penggemar sastra.       .
*Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia